Kamis, 11 Agustus 2022

'Kalkulator' Petani Sawit di Batanghari Rusak Perlu Replanting

Selasa, 14 Desember 2021 - 00:40:26
Bupati sedang berbincang bereama KUD Desa Bulian Jaya, Senin (13/12/2021).

Bupati sedang berbincang bereama KUD Desa Bulian Jaya, Senin (13/12/2021).

MUARABULIAN - Berdasarkan data Dinas Perkebunan Kabupaten Batanghari Produksi Tandan Buah Segar (TBS) Petani di kabupaten Batanghari terlihat menurun. Hal ini dikatakan Bupati Kabupaten Batanghari Mhd Fadhil Arief, SE Dihadapan sejumlah Koperasi unit desa (KUD) di Kecamatan Maro Sebo Ilir, saat menghadiri tanam perdana sawit pola kemitraan perusahaan Asian Agri. Senin (13/12/2021).

Suami Zulva itu menyampaikan, data di tahun 2021 ini produksi kebun kelapa sawit yang ditanam swadaya oleh petani saat ini hanya tinggal 3.5 ton perhektar pertahun.

" Ini tentu ada masalah dengan kebunya dan persoalannya banyak. Bisa jadi bibitnya salah, cara menanamnya salah,maintanance salah seperti pemupukan,perawatan salah, bisa jadi orangnya salah, ini sudah dikenali disbun Batanghari saat ini," cetus Fadhil.

Tanam sawit dahulu bisa jadi asal tanam dengan niat mendepat rezeki. Sebagian petani berhasil seperti pada kemitraan eks perushaan diawal masa panen.

Fadhil Berujar dirinya semasa camat maro sebo ilir dulu juga pernah menanam sawit hingga tiga kali tanam, bupati juga akan berencana jika kebunnya itu tidak berhasil akan diserahkan ke perusahaan untuk di replanting.

Bupati menjelaskan, Replanting kebun kelapa sawit ini tidak hanya untuk sawit berusia tua, tapi juga ditujukan kepada kebun kelapa sawit yang tidak ekonomis lagi. Seperti, biaya perawatan tinggi, perawatan yang tidak memadai atau bibitnya tidak jelas.

" Persoalan ini harus disampaikan KUD kepada petani dengan jelas, itu seperti KUD Tuo sekato desa danau embat coba pelajari, kalau memang tidak optimal dimasukan ke program replanting pola kemitraan," tegas Mantan Sekda Muaro Jambi itu.

Ia menceritakan bahwa orang tuanya pernah menyebutkan, orang Batanghari itu 'kalulator' nya rusak.  Sebagian petani kita ini kalkulatornya rusak. Nah, untuk mendapat hasil yang maksimal butuh kalkulator yang benar, bagaimana menghitung dengan baik.


" Maka pada visi misi saya bersama wakil Bupati Bakhtiar diangka pertamanya menjadikan petani yang cerdas, petani harus bisa mengelola dirinya sendiri, bisa menentukan pilihan yang tepat, pada saat petani tidak banyak waktu untuk ke kebun pilihannya mitra," paparnya.

Ia sudah bersepakat dengan wabup, agar dinas perkebunan agar lebih inten mengawal petani yang replanting dengan swakelola/swadaya. Khawatirnya kalkulatornya rusak. Petani, Bisa melakukan tanam kebun sendiri, tapi harus mengelola dengan cara manual dan itu harus membutuhkan waktu panjang.

" Sekarang coba berhitung, cukup tidak waktunya untuk mengelolanya, cukup tidak ilmunya disitu. Ini perlu camat,KUD untuk disampaikan kepada petani," sebut Bupati.

Lebih jauh juga dikatakan Bupati bahwa masyarakat yang tidak ingin replanting dikarenakan  tidak ada penghasilan pengganti.  Ia meminta dinas perkebunan agar mencari penghasilan pasca tumbang ini untuk memilih pengganti pengganti yang tepat bersama perusahaan memiliki kemitraan.

Pola kemitraan antara petani dan perusahaan juga harus saling menguntungkan, ada mutualisme. Kedepan dinas perkebunan harus mengawal replanting dengan bibit yang terjamin.

" Karena saya punya cita-cita kedepan jika masih diamanahkan, pemkab akan protes tentang harga TBS, jika program replanting pola kemitran nanti berhasil, saya akan meminta kepada perusahaan agar membedakan harga TBS, harga harus dipisahakan antara yang sesuai prosedur penanamannya dan yang asal, dengan syarat Kadar TBS nya bagus," pungkas Bupati.

Penulis: Kms Chairudin
Editor: Ch/El